Ada pelajaran berharga dari Rasulullah kepada kita semua. Ketika salah seorang sahabat meminta kepadanya sebuah nasihat yang akan membimbingnya ke syurga, kekasih Allah itu berkata, “Beriman kepada Allah dan istiqamah”. Beriman kepada Allah tidak cukup dirasakan dalam hati, dia juga harus dilafalkan. Karena dengan melafalkan niscaya hal itu terinternalisasi dalam diri kita. Semacam metode “self-motivation”, kalau kita senantiasa mengulang-ulang tujuan kita, niscaya segala daya upaya kita akan tercurah untuk menggapai tujuan itu. Dengan analogi yang sama, rasa iman kita yang kadang turun kadang naik ini pun sebaiknya dilafalkan. Kita beriman kepada Allah, kita beriman kepada tanda-tanda kekuasaan Allah. Bentuk nyatanya adalah apapun yang terjadi pada diri dan sekitar kita, kita sangkutkan kembali kepada Allah. Dengan menyebut dan mengagungkan nama-Nya, niscaya akan menambah rasa keimanan dalam hati.
Istiqamah, dalam bahasa sehari-hari bisa diterjemahkan sebagai konsisten. Tentunya konsisten dalam berbuat kebajikan agar selalu mendapat ridha Allah. Ketika kita dalam keadaan senang, mungkin tidak susah berbuat baik – walau kesenangan itu bisa juga suatu ujian. Namun ketika kita sedang ditimpa kemalangan, sungguh berat rasanya untuk bisa menerima takdir Allah itu dan di sisi lain tetap istiqamah dan tidak suudzan kepada Nya. Apa yang menurut kita baik belum tentu adalah yang baik di sisi Allah, sebaliknya apa yang tidak kita inginkan siapa tahu ada makna tersirat di baliknya yang ingin diajarkan Allah pada kita.
Mungkin mudah berkata begini kalau bukan kita yang mengalaminya. Saya rasa masing-masing kita pernah mengalami suatu saat di mana kita sudah berusaha sekuat hati, tenaga dan pikiran untuk mencapai suatu tujuan yang kelihatannya tidak sulit bagi orang lain tapi ternyata sangat sulit bagi kita. Dan Allah ternyata belum mengabulkan keinginan kita. Apakah kita lantas berkecil hati, suudzan kepada Allah karena tidak menerima semua usaha kita…. ?
Perasaan-perasaan itu sangat manusiawi. Begitulah perasaan saya hari ini saat melihat adik saya dan istrinya dengan muka sembab di meja makan. Seharusnya hari ini adik ipar saya tersayang melakukan test kehamilan – mereka melakukan inseminasi kira-kira 3 minggu sebelumnya. Sayang Allah belum berkehendak, belum sempat test dilakukan dia menyadari kalau dirinya datang bulan. Tangis pun meledak, ayah merangkulnya dan aku hanya bisa mencium ubun-ubun kepala adik iparku sambil berbisik,”Yang sabar ya… nanti bisa dicoba lagi….” Di ujung meja kulihat adik laki-lakiku yang tepekur, makna tatapannya tak mudah dibaca, namun kekecewaan jelas membayang di matanya.
Ya Allah,
Jika ada dua orang manusia yang sudah siap menimang buah hati
Mereka inilah orangnya
Sang calon bapak yang ‘alim
Dan calon ibu yang cantik dan pintar
Dari mereka akan hadir anak-anak gagah, cantik, pintar dan shaleh
Hanya bila Engkau perkenankan Ya Allah….
Izinkanlah…..
Sunday, 16 March 2008
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comment:
One of precious things that Allah gives me is to have sister like you. Thank you ALLAH...thank you also sis...LOVE YOU
Post a Comment