Sunday, 30 March 2008

Wednesday, 26 March 2008

London Trip

Hi... I'm in Changi at the moment, blogging from the Airline Lounge while waiting for my flight to Jakarta in about 2 hours from now.

Just back from London, basically a fantastic trip - where you arrive there one day and you directly go back to Jakarta the next day. Fantastic cause you don't get to feel the jetlag and boom you're flying back again, leaving your body busy in translating the correct date and time.

But anyway... I'm still grateful the flight was nice, and I still get one day to get around the city. I was in London for a business meeting with my colleagues from office - one that unfortunately I can't share about right now... as it is still classified confidential. Anyway, I'm not here to talk business. I like to share about my personal experience in London.

One thing I can advise to you is not to visit London in March. We learned from BBC that it would be freezing, so I packed an overcoat, shawl, jacket and handgloves. Turns out I was still freezing. The temperatures was about 1-2 degrees celcius when we started our walk hunting for breakfast in the Oxford Street on the morning of 24th March. The stores were still closed, but we managed to find a Halal kiosk that sells coffee and all kinds of pastries. First thing I like about London - It's not hard to find Halal Food, a bit like here in Singapore.

The hotel we stayed in was just at the end of the famous Oxford Street, however - here comes my second advise - do prepare lots - at least doubled - budget if you travelling to London. I'm not talking only about the exchange rate of 2.1 x US$, but also that the price of a hotel room here are outrageous. To stay in the nice downtown area major chain hotel, you must be prepared to spend at least 200 GBP or around US$ 400. The hotel my company used to stay in central London charge about US$ 500/nite.

OK moving on, to get around efficiently we decided to take the Hop-On and Hop Off bus. We get in at the Piccadilly Circus, and the bus went around the route to landmarks of London such as Trafalgar Square, Big Ben, London Eye, London Bridge, Buckingham Palace, Downing Street No. 10. We were on the upper deck of the red double decker bus, and we literally freezing our butts as we realized the rain changed to delicate form of snow. It was SNOWING !! You may call me corny, but it was my first experience with Snow... so despite I was freezing to death in that bus, my heart was singing ! Lalalala......

The bus stopped a while alongside Thames River - where you could hop off and get in the boat cruising the famous yet muddy Thames River. It was true, the water was not clear instead it was Brown, much like our Ciliwung River. It turned out we have to hop off and change bus. Something attracted my attention, as I saw far behind the London Eye - suddenly stopped moving. Later I learned from TV news that London Eye did stopped that afternoon due to power/electricity shutdown. People are being kept in the high altitude about 1.5 hours ! Phiuh... I thank God we did not take the ride as we planned that afternoon.

In the afternoon, we took a tube down to Harrods. My colleagues convinced me there's something you can buy at that high-class jetset stores, and frankly speaking I get lured. The stores was full of Arabic people - they spent lots of money I believe, cause I did check on one jacket price tag and it says 1200 GBP which is about US$2,400 or Rp.24 million. Well, it's no wonder considering current sky rocketing oil price certainly brought a lot of cash to Middle East countries. At the end we bought some souvenirs, like the famous plastic bags with HARRODS logo on it, and that costs me Rp. 220 rb ! I ended up spending about US$250 only for souvenirs.

The second thing I like about London, is how polite the people are - although they are pretty snob as well. But, I can feel their warmth and they seems to accept moslems better than Americans. I saw in BBC this morning that Al-Qur'an preaching is considered to be included in the school curriculum, and one article in the Daily Telegraph suggests that by 2020, Moslems going to Mosque will outnumber Christians going to Church.

Even in the office complex in Sunbury, I can found mosque in almost every floor. Very encouraging.

Someday I'm gonna be back here, and I will spend a proper time to visit the places I desribed above. If there's some city I would like to stay outside of Indonesia, I think it will be London.

Gotta go... need to grab some souvenirs (again) for my sons...

Wassalam,

Sunday, 16 March 2008

Istiqamah

Ada pelajaran berharga dari Rasulullah kepada kita semua. Ketika salah seorang sahabat meminta kepadanya sebuah nasihat yang akan membimbingnya ke syurga, kekasih Allah itu berkata, “Beriman kepada Allah dan istiqamah”. Beriman kepada Allah tidak cukup dirasakan dalam hati, dia juga harus dilafalkan. Karena dengan melafalkan niscaya hal itu terinternalisasi dalam diri kita. Semacam metode “self-motivation”, kalau kita senantiasa mengulang-ulang tujuan kita, niscaya segala daya upaya kita akan tercurah untuk menggapai tujuan itu. Dengan analogi yang sama, rasa iman kita yang kadang turun kadang naik ini pun sebaiknya dilafalkan. Kita beriman kepada Allah, kita beriman kepada tanda-tanda kekuasaan Allah. Bentuk nyatanya adalah apapun yang terjadi pada diri dan sekitar kita, kita sangkutkan kembali kepada Allah. Dengan menyebut dan mengagungkan nama-Nya, niscaya akan menambah rasa keimanan dalam hati.

Istiqamah, dalam bahasa sehari-hari bisa diterjemahkan sebagai konsisten. Tentunya konsisten dalam berbuat kebajikan agar selalu mendapat ridha Allah. Ketika kita dalam keadaan senang, mungkin tidak susah berbuat baik – walau kesenangan itu bisa juga suatu ujian. Namun ketika kita sedang ditimpa kemalangan, sungguh berat rasanya untuk bisa menerima takdir Allah itu dan di sisi lain tetap istiqamah dan tidak suudzan kepada Nya. Apa yang menurut kita baik belum tentu adalah yang baik di sisi Allah, sebaliknya apa yang tidak kita inginkan siapa tahu ada makna tersirat di baliknya yang ingin diajarkan Allah pada kita.

Mungkin mudah berkata begini kalau bukan kita yang mengalaminya. Saya rasa masing-masing kita pernah mengalami suatu saat di mana kita sudah berusaha sekuat hati, tenaga dan pikiran untuk mencapai suatu tujuan yang kelihatannya tidak sulit bagi orang lain tapi ternyata sangat sulit bagi kita. Dan Allah ternyata belum mengabulkan keinginan kita. Apakah kita lantas berkecil hati, suudzan kepada Allah karena tidak menerima semua usaha kita…. ?

Perasaan-perasaan itu sangat manusiawi. Begitulah perasaan saya hari ini saat melihat adik saya dan istrinya dengan muka sembab di meja makan. Seharusnya hari ini adik ipar saya tersayang melakukan test kehamilan – mereka melakukan inseminasi kira-kira 3 minggu sebelumnya. Sayang Allah belum berkehendak, belum sempat test dilakukan dia menyadari kalau dirinya datang bulan. Tangis pun meledak, ayah merangkulnya dan aku hanya bisa mencium ubun-ubun kepala adik iparku sambil berbisik,”Yang sabar ya… nanti bisa dicoba lagi….” Di ujung meja kulihat adik laki-lakiku yang tepekur, makna tatapannya tak mudah dibaca, namun kekecewaan jelas membayang di matanya.

Ya Allah,
Jika ada dua orang manusia yang sudah siap menimang buah hati
Mereka inilah orangnya
Sang calon bapak yang ‘alim
Dan calon ibu yang cantik dan pintar
Dari mereka akan hadir anak-anak gagah, cantik, pintar dan shaleh
Hanya bila Engkau perkenankan Ya Allah….
Izinkanlah…..

Ultah Abang ke-6

Tanggal 15 Maret kemarin, Mizan – sulungku – berulang tahun yang ke-6. Tahun ini dia nampaknya sudah mengerti betul arti ulang tahun, sehingga banyak sekali ‘requirements’ nya dari jenis kue ulang tahun yang diinginkan, hadiah yang diinginkan, dan ‘kenang-kenangan’ untuk dibagikan ke teman-teman sekolahnya.

Jadilah aku dan si Mas berangkat Sabtu pagi ke Asemka guna mencari ‘kenang-kenangan’ untuk dibagikan ke para undangan. Siapa yang sudah pergi ke Asemka pasti tahu pasar macam apa di sana. Siapa yang belum... well.... put it like this.... it’s a heaven on earth for children toys, accessories, and school supplies (from books and water bottle to school bags). Cara termudah untuk pergi ke Asemka adalah dengan naik busway sampai terminal busway kota. Dari sana, tinggal jalan kaki sekitar 250 m dan sampai deh. Kalau ga mau terlalu lama menghabiskan waktu di busway, saran saya adalah parkir mobil di Sarinah, barulah dari sana naik busway.

Ok, long story short – setelah pikir punya pikir akhirnya kami sepakat membelikan jam tangan anak-anak dengan bermacam motif lucu yang lagi happening seperti Naruto, Ben 10, Barbie, dll. Terakhir kami lihat di mall dekat rumah harganya sekitar Rp. 35 rb-an, tapi di sini… cukup Rp. 12,500 saja – mau ambil kurang dari selusin harganya juga sama. Saya jadi curiga harga mainan di sini jauh lebih murah dari pasar Prumpung – tempat kami biasa beli mainan buat anak-anak. “Next time kayaknya perlu disambangin lagi pasar ini,” saya membuat catatan dalam hati.

Sebelum hari “H”, abang sudah sibuk cari tahu apakah saya dan si Mas sudah membelikan hadiah ulang tahun sesuai pesanannya. Tahun ini dia lagi tergila-gila dengan permainan “Bakugan”. Saya lihat permainannya di TV, itu adalah semacam permainan strategy yang nampaknya lebih cocok untuk anak SD. Tapi si abang ngotot karena hamper semua temannya sudah punya mainan itu. Saya mengelak, harganya terlalu mahal. Tapi ternyata abang lebih pintar. Tidak jebol di Mama, langsung tembak ke Bos Besar. Dan berhasil !!

Tapi memang si Mas suka usil juga. Sudah tahu anaknya penasaran setengah mati, si Papa ini masih pegang rahasia dengan teguh soal hadialh ulang tahun itu. Lucu juga lihat si abang blingsatan, kamar kami sudah habis digeledahnya sambil berpura-pura manis bertanya “Bapak udah beli hadiah bakugannya belum ?” Kesal ditanya terus, si Bapak menjawab,”Kata siapa Bapak beli Bakugan ? Bapak belinya Barbie kok !”

Air muka Abang – yang nggak terbiasa lihat bapaknya bercanda – langsung berubah. “Barbie ? Kan abang laki-laki!” protesnya.

“Oh, Ken maksud Bapak…..”

Tambah bingung…. “Kenapa Ken, kan bang bilang Bakugan…..”

“Bakugannya ga ada, adanya cuma Ken. Kalau ga mau ya udah”

“Ya udah deh...Ken aja” kata sulungku pasrah. Hehehe...kasihan juga liat mukanya melas gitu. Dan itu ga berakhir di situ. Si Mas dengan kreatifnya membungkus hadiah mahal yang wujudnya cuma sedikit lebih besar dari kelereng itu dengan berlapis-lapis, dibungkus kertas kado, koran berlapis-lapis, masuk lagi ke dalam tas sekolah, masuk ke dalam kotak bekas sepatu, dan seterusnya dan terakhir dimasukkan ke kantong jinjing belanjaan dari kertas.

Terbayang kan waktu acara buka kado, bagaimana ngebetnya abang buka kado dari sang Bapak ? Tapi kita berhasil meredam dan memaksa dia membuka kado Bapak yang terakhir. Dan inilah gongnya…. Dengan berapi-api Mizan menyobek satu demi satu pembungkus kado dari sang Bapak. Ketika sampai ke kotak sepatu semua tamu berseru “Wah... sepatu !” dan abang dengan air muka ga percaya langsung membuka kotak sepatu dan berseru “Ada lagi!”. Si Bapak masih dengan usil menyerukan “Abang semangat banget mau dapat Barbie!” Jelas si abang tambah panas. Terakhir dari kado sebesar kotak sepatu boot, dia memegang kotak tissue… dan kami berteriak “Barbie…Barbie….Tissue… Tissue….” Membuat Mizan makin gila membuka kotak tissue itu dan ketika akhirnya dia menemukan apa yang dicarinya air mukanya itu …… sangat susah untuk dilukiskan….. Senyumnya melebar…. Hilang sudah kecemasan dan rasa malu kalau sungguh dia dibelikan boneka Barbie oleh ayahnya. Sebagai gantinya dia mengacung-acungkan Bakugan dan segera mendaratkan ciuman di pipi bapaknya yang tertawa geli melihat tingkah sang buah hatinya.

Mizan anakku sayang
Enam tahun sudah umurmu
Terasa baru kemarin
Kau dalam buaianku

Tahun ini kau sudah pandai membaca
Bahkan dengan lantang kau bacakan baris-baris puisi
Tahun depan akankah kau masih
Mau menerima peluk dan ciuman dariku

Sunday, 9 March 2008

Ayat-Ayat Cinta – The Movie

Tiga hari yang lalu – tepat di hari Nyepi – saya, ibu dan adik ipar pergi menonton film yang sedang banyak diperbincangkan, Ayat-Ayat Cinta. Tiap-tiap kami telah membaca novelnya yang spektakuler, membukakan mata kami akan keindahan Islam dari hal-hal kecil pada kehidupan sehari-hari, membuktikan betapa Islam adalah Rahmatan Lil-‘Alamin. Ayat-Ayat Cinta – The Novel – lebih dari sekedar cerita cinta, penuh dengan pesan agama yang anehnya tidak terasa menggurui karena dituangkan dalam tutur bahasa yang menyejukkan. Semua wanita yang membaca Ayat-Ayat Cinta niscaya menghayalkan betapa bahagianya bila suaminya seperti sosok Fakhri: seorang tahfidz Qur’an yang ‘alim, pintar, memiliki hati yang lembut, menghormati perempuan, dan sangat romantis kepada istrinya. Buku ini mengajarkan bagaimana seorang adab dan akhlak seorang muslim dalam kehidupan metropolis zaman sekarang yang serba cepat dan serba individualistis. Bagi saya buku ini adalah buku cinta yang sebenarnya, yang tidak mengumbar nafsu berahi kepada lawan jenis sebelum menikah, namun ketika lawan jenis itu telah menjadi sah baginya berubah menjadi seorang pecinta ulung yang penuh dengan kata-kata indah dan perbuatan yang mengagungkan sang wanita. Buku ini membuka mata saya bagaimana cinta itu diajarkan dalam Islam, dan dengan bahasanya yang menawan, Habiburrahman El-Shirazy telah memikat pembacanya dalam kisah cinta yang menyentuh kalbu dengan kerinduan kepada Allah, karena cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah.

Sayangnya…. semua itu tidak terasa ketika kita menonton filmnya. Dari awal, adegan demi adegan terasa mengusik nurani saya melihat bagaimana bebasnya Fakhri dan Maria – gadis Kristen koptik tetangganya – pergi berdua-dua ke kampus atau saat mereka berdua bercakap-cakap di tepi sungai Nil dengan saling menatap mesra. Fokus dari film ini adalah percintaan segi tiga Fakhri-Aisha-Maria dengan puncaknya sidang pengadilan Fakhri yang dituduh memperkosa Noura – gadis Mesir muslim tetangga flatnya. Keshalihan Fakhri tidak tampak sama sekali dalam film ini, yang ada hanyalah keluguan seorang pemuda kampung mahasiswa Al-Azhar yang sering nampak ragu dengan keimanan yang dia miliki. Sama sekali bukan sosok Fakhri yang diceritakan di novelnya. Terlalu banyak detil yang tidak diperhatikan yang bagi saya justru terasa sangat mengganggu. Bagaimana mungkin seorang ‘alim seperti Fakhri minum dengan tangan kiri – yang kita tahu dalam Hadits dinyatakan seperti perilaku syaitan – atau minum sambil berdiri dan berjalan – yang disebut sebagai perilaku hewan dalam Hadits. Hal lain yang mengganggu ialah menjawab salam, kita tahu salam yang kita gunakan untuk Non Muslim tidak sepatutnya menggunakan Assalammu’alaikum tapi itulah yang terjadi di film ini.

Puncaknya adalah adanya adegan-adegan Hollywood di dalam film ini. Kalau kita sering menonton film produksi Hollywood sering kita menjumpai sang tokoh utama yang kontroversional dan alasan yang dia kemukakan adalah : “Saya dulu sangat religius, tapi apa yang saya dapat sebagai balasan ? Tuhan melupakan saya, Tuhan meninggalkan saya, Dia membiarkan saya ditimpa berbagai kemalangan di dunia ini, Apa salah saya sehingga Tuhan menghukum saya seperti ini?”. Pengingkaran dan menyalah-nyalahkan Tuhan adalah bukti nyata kualitas iman seseorang yang berada di lapisan terbawah. Untuk seseorang dengan kualitas keimanan seperti Fakhri, kata-kata semacam ini sangat tidak pantas diucapkan. Hal yang lebih pantas adalah introspeksi diri, muhasabah dan kontemplasi ke dalam, persis seperti yang ada di novelnya. Adegan Hollywood lainnya adalah penggambaran malam pertama Fakhri dan Aisha, dimana seharusnya disinilah ditampilkan adab malam pertama yang islami sesuai bukunya. Islam mengajarkan cara bermesraan yang santun, dimulai dengan mengecup ubun2 istri dan shalat berjamaah bersama memohon diberikan kebaikan atas kehidupan baru mereka. Tapi yang terjadi adalah adegan percintaan diakhiri ciuman ala Hollywood.

Singkatnya, film ini lebih tepat disebut adaptasi dari novel bersangkutan, karena penokohan karakternya yang tidak sama. Fakhri dalam film bukanlah sosok Fakhri dalam novel. Pertimbangannya apa, saya rasa lebih kepada unsur komersialitas, dan kenyataan bahwa Negara kita adalah Negara dengan berbagai macam agama – sehingga rasanya sang produser/sutradara/penulis scenario takut untuk dicap fanatik kalau terlalu mengikuti alur cerita dan penokohan karakter dalam novel. Hasil akhirnya adalah film yang kehilangan ruh dan nafasnya, Islam yang digambarkan masih Islam yang dangkal karena sebagian besar nilai Islam yang ditampilkan di bukunya tidak muncul sama sekali.

Terlepas dari itu, bagi orang yang belum membaca bukunya insya allah akan tercerahkan menonton film ini. Saran saya bagi yang sudah menonton – lebih baik bacalah bukunya dan anda akan terhanyut dengan keindahan Islam yang begitu luar biasa.

Wednesday, 5 March 2008

Love in Time of Cholera

I recently read several love story novel, two of which are Love in Time of Cholera by Gabriel Garcia Marquez and Ayat-Ayat Cinta by Habiburrahman El-Shirazy.

I was prompted to read Love In Time of Cholera by my colleague in office, who adores this novel and in fact almost anything written by the same author who was a Noble Prize winner for his other novel: One hundred Years of Solitude. Moreover, I remember that this novel was 'the thing' that reunite the couples in the movie "Serendipity", so it must be a good novel.

It is a love story with setting around 19th century, so it was time for poetry and rhyme and long love letters. A bit boring - sometimes, as it elaborates certain things that proved not be essentials to the whole story e.g only serves as background. It was about a guy - Florentino Azaria - who keep his devotion towards his first love for more than 50 years ! The girls he's fallen in love to - Fermina Daza - has broke her promise to marry him and marry someone else instead. If you only read the excerpts that you will instantly take side with Azaria, the poor man. But when I read the book, the melancholy Azaria does not attract me at all rather than feeling pity and sorry for him. And the fact that he 'take revenge' by sleeping with more than 500 women in his waiting period of 50 years for Fermina Daza to be come widow give him even lower score.

In the other hand, I think Fermina Daza does not love anybody other than herself. She does not love her husband, not Azaria whom she feel sorry for, she only gives a damns about herself. I am instantly in love with Dr.Urbino - Fermina's husband - who has all the good traits a man should have. Frankly speaking, I do not know why Fermina is not happy with him who posed not only as husband, but also as protector and a friend - all at the same time.

That gets me introspecting that we all quite often take everything for granted. We have a loyal husband, a good father for the kids, and yet we still feel sorry to ourselves if our husband is not romantic like what we read in the novel. We always compare what we have with what we don't have and instead of feeling accomplished more often we feel behind.

Overall, I would recommend you to read the book if you're a romance freak. For me, it turns me off seeing a man cry so often as depicted in the book and the movie. However you can still enjoy the movie - especially Dr.Urbino who is played by the charismatic Benjamin Bratt.

I'll post my thoughts on Ayat-Ayat Cinta later on.