Thursday, 7 August 2008

First Day at School

A little bit late, this is the note from the first day at school.

Today, 14th August is the first day of school for Mizan. Fakhri's pre-school does not start until the 17th, but he wake up early this morning and insists that he goes to school and wear the uniform.

So here we are at school, Mizan is on class 1E, along with other 24 children. Mr. Abdullah and Ms. Nina are his class room teacher. The first 3 days at school is intended for orientation, and last only up to 10 a.m

Mizan looks not sure of what to expect at school, but I am glad he does not seems to worry with the new environment, new school, new friends. He seems fine with it and does not ask much about school. Only after 1 week of school he understands the typical program and activities, and make new friends that he is able to share about his day at school.


Fakhri on the other hand, are very estathic with the new school. When I asked what he is going to do at school, he said "(play) slide !" His school has a big kids playground with 2 slides, and climbing areas. As Fakhri school has not begin, I use the opportunity to meet his class room teacher Ms Obi and Ms Dinant. I explain to them about Fakhri's situation, and make them aware about what to do in a situation where Fakhri's magnet detached from his head, or when the battery needs replacement. Alhamdulillah the teachers look very welcome and confident that they can manage Fakhri's device in the class. In fact, when I compare Fakhri's playgroup with Mizan's, I found Fakhri's school is more discipline and encourage self-independent much more than Mizan's. No parents or baby sitters are allowed on the school premised starting the second week, and the teachers are very capable in handling the kids crying and screaming. They hold, carry and soothe them with all kinds of persuasion, something I admire in these teachers....

After first week of school, I received a text message from Fakhri's teacher that says Fakhri is independent, and follow the teacher's instruction at class very well. I was very happy to hear the complement, as Fakhri was the only one that does not cry at all since the first day at school.






Lima hari berkesan di Bali

Liburan sekolah tahun ini, kami sekelurga plus kakek + neneknya Mizan pergi ke Bali. Sengaja dirancang jauh-jauh hari, alhamdulillah liburan kali ini sangat mengesankan tanpa rintangan berarti dan semua orang tampaknya enjoy dengan program yang disusun secara rapi dan cermat (hehehe emang hobi saya atur-atur....).

Hari pertama usai mendarat kami langsung ke Ubud (setelah sebelumnya mampir ke pantai Kuta untuk makan siang dan bersantai sejenak). Berdasar rekomendasi kawan baik, kami menginap di Agung Raka Bungalow. Tempatnya enak, harganya relatif murah, makan pagi juga mengenyangkan. Paling pas sebenarnya untuk honeymoon, karena di belakang banyak bungalow yang berada di pinggir sawah, jadi pemandangannya bener-bener asyik, dan ga terlalu hectic. Mizan dan Fakhri bisa puas berenang di kolam yang ga terlalu besar tapi relatif sepi tanpa gangguan tamu lain.

Malamnya kami langsung menjajal Bebek Bengil, yang psst... katanya jadi beken setelah Bianca dan Mick Jagger menjadikan resto ini sebagai tempat resepsi pernikahan mereka di Bali. Bebeknya soo... crispy dan tidak bau, tapi kalau boleh komentar harganya kurang bersahabat dengan turis lokal, satu porsi bebek + nasi harganya sekitar Rp. 60 rb belum pajak. Menimbang tempatnya yang romantis dan nicely decorated, anggaplah impas paling ngga bisa bilang udah pernah makan di sana..hahaha.

Hari kedua kami langsung tancap gas mobil sewaan ke Bedugul. Di tengah jalan, karena ketidak fasihan membaca peta, kami baru menyadari kalau jalan yang ditempuh ke Kintamani. Tapi namanya juga liburan, take it easy! Jadilah kami ke Kintamani. Jalan yang ditempuh ternyata relatif sepi dan tanpa hambatan. Cuma 1.5 jam kami sudah sampai di Kintamani. The view was breathtaking ! Sudah 2 kali ke sini, masih saja terpesona melihat gunung disaput kabut tipis dengan danau membentang di hadapannya.... Kami pun turun ke danau, tapi ternyata kami hampir saja 'dirampok' pedagang yang menawarkan dagangannya secara paksa, bahkan ada yang memijit-mijit punggung saya menawarkan massage ...hii... buru-buru saja kami menyingkir. Syukurnya, salah seorang teman suami saya memiliki resto + bungalow tidak jau dari dermaga Kintamani itu. Kami pun pindah ke sana dengan harapan dapat diskon makan siang...:)

Usut punya usut, ternyata sang pemilik resto itu lulusan almamater yang sama dengan saya, dan anak bungsunya adik kelas saya ! What a small world ! Tempatnya benar-benar asyik, lihat deh foto-fotonya di bawah ini. Mizan tiba-tiba punya hobi baru memancing bersama sang Nenek yang memang jago dari masa kecilnya.

Esok harinya, kami memantapkan diri pergi ke Bedugul. Alhamdulillah kali ini tidak kesasar lagi. Di Bedugul kami melihat banyak restoran muslim, bahkan ada masjid besar yang berdiri tepat di depan danau Bedugul. Setelah beberapa hari tidak mendengar adzan, panggilan shalat terasa sangat sejuk menyirami hati. Bedugul sangat cantik, setelah puas berfoto-foto, kamipun berangkat menuju Nusa Dua, tempat menginap kami selanjutnya.

Kami sampai di Nusa Dua setelah Maghrib. Kali ini semua terpesona dengan hotelnya yang berbentuk semacam apartment 2 kamar lengkap dengan perabot masak-memasak dan ruang keluarga yang besar. "Pasti mahal !" kata ayah saya, saya cuma tersenyum saja karena dengan sedikit riset di internet, saya dapat bungalow ini cuma seharga Rp. 800 rb/malam. Saya rasa harga sedikit murah karena letaknya tidak persis di depan pantai. Tapi tidak mengapa, jalan kaki 10 menit saja dari pintu belakang hotel, kami sudah sampai di pantai Nusa Dua yang bersih dan tidak sepenuh pantai Kuta.

Esok paginya, kami berangkat menuju GWK atau Garuda Wishnu Kencana. Saya yang belum pernah ke sini sebelumnya cukup takjub melihat bagaiman gunung kapur di 'potong' dan dibentuk secara artistik menjadi latar untuk Patung GWK itu. Patungnya sendiri belum selesai, kita baru bisa melihat kepala Garuda, Kepala dan Tangan Wishnu. Kalau patungnya sudah berdiri dan fully assembled dengar-dengar bakal setinggi Empire State Building di New York.


Dari sana kami ke Uluwatu, namun sesampainya di sana, rombongan tidak berani masuk karena monyet-monyet yang ganas. Saya, ibu, dan Mizan masuk ke dalam dan kami sama sekali tidak menyesal. Pura Uluwatu terletak di atas tebing ratusan meter di tepi semenanjung. Kalau melihat ke bawah, rasanya perut seketika mual membayangkan kemungkinan terburuk.


Malam itu adalah malam terakhir kami di Bali, jadi kami memanfaat waktu yang ada untuk menjajal sedapnya seafood pantai jimbaran sembari menikmati sunset. Berdasar riset, yang direkomendasikan adalah kafe Menega - yang sempat menjadi sasaran Bom Bali II. Tidak salah memang, walaupun penuhnya minta ampun, tapi bumbunya benar-benar pas dan harganya relatif sama dengan makan di Muara Angke ! Berenam kami mengabiskan Rp. 300 rb, itu sudah termasuk Udang Windu, Cumi, Kerang, dan 2 macam ikan ! Suasana makan di pinggir pantai sembari melihat sunset adalah sesuatu yang tidak terlupakan....

Akhirnya, tibalah saat kami harus berpisah dengan Bali.... Sedikit shopping di Kuta kami lakukan sebelum akhirnya berangkat menuju Bandara.