Sunday, 9 March 2008

Ayat-Ayat Cinta – The Movie

Tiga hari yang lalu – tepat di hari Nyepi – saya, ibu dan adik ipar pergi menonton film yang sedang banyak diperbincangkan, Ayat-Ayat Cinta. Tiap-tiap kami telah membaca novelnya yang spektakuler, membukakan mata kami akan keindahan Islam dari hal-hal kecil pada kehidupan sehari-hari, membuktikan betapa Islam adalah Rahmatan Lil-‘Alamin. Ayat-Ayat Cinta – The Novel – lebih dari sekedar cerita cinta, penuh dengan pesan agama yang anehnya tidak terasa menggurui karena dituangkan dalam tutur bahasa yang menyejukkan. Semua wanita yang membaca Ayat-Ayat Cinta niscaya menghayalkan betapa bahagianya bila suaminya seperti sosok Fakhri: seorang tahfidz Qur’an yang ‘alim, pintar, memiliki hati yang lembut, menghormati perempuan, dan sangat romantis kepada istrinya. Buku ini mengajarkan bagaimana seorang adab dan akhlak seorang muslim dalam kehidupan metropolis zaman sekarang yang serba cepat dan serba individualistis. Bagi saya buku ini adalah buku cinta yang sebenarnya, yang tidak mengumbar nafsu berahi kepada lawan jenis sebelum menikah, namun ketika lawan jenis itu telah menjadi sah baginya berubah menjadi seorang pecinta ulung yang penuh dengan kata-kata indah dan perbuatan yang mengagungkan sang wanita. Buku ini membuka mata saya bagaimana cinta itu diajarkan dalam Islam, dan dengan bahasanya yang menawan, Habiburrahman El-Shirazy telah memikat pembacanya dalam kisah cinta yang menyentuh kalbu dengan kerinduan kepada Allah, karena cinta yang hakiki adalah cinta kepada Allah.

Sayangnya…. semua itu tidak terasa ketika kita menonton filmnya. Dari awal, adegan demi adegan terasa mengusik nurani saya melihat bagaimana bebasnya Fakhri dan Maria – gadis Kristen koptik tetangganya – pergi berdua-dua ke kampus atau saat mereka berdua bercakap-cakap di tepi sungai Nil dengan saling menatap mesra. Fokus dari film ini adalah percintaan segi tiga Fakhri-Aisha-Maria dengan puncaknya sidang pengadilan Fakhri yang dituduh memperkosa Noura – gadis Mesir muslim tetangga flatnya. Keshalihan Fakhri tidak tampak sama sekali dalam film ini, yang ada hanyalah keluguan seorang pemuda kampung mahasiswa Al-Azhar yang sering nampak ragu dengan keimanan yang dia miliki. Sama sekali bukan sosok Fakhri yang diceritakan di novelnya. Terlalu banyak detil yang tidak diperhatikan yang bagi saya justru terasa sangat mengganggu. Bagaimana mungkin seorang ‘alim seperti Fakhri minum dengan tangan kiri – yang kita tahu dalam Hadits dinyatakan seperti perilaku syaitan – atau minum sambil berdiri dan berjalan – yang disebut sebagai perilaku hewan dalam Hadits. Hal lain yang mengganggu ialah menjawab salam, kita tahu salam yang kita gunakan untuk Non Muslim tidak sepatutnya menggunakan Assalammu’alaikum tapi itulah yang terjadi di film ini.

Puncaknya adalah adanya adegan-adegan Hollywood di dalam film ini. Kalau kita sering menonton film produksi Hollywood sering kita menjumpai sang tokoh utama yang kontroversional dan alasan yang dia kemukakan adalah : “Saya dulu sangat religius, tapi apa yang saya dapat sebagai balasan ? Tuhan melupakan saya, Tuhan meninggalkan saya, Dia membiarkan saya ditimpa berbagai kemalangan di dunia ini, Apa salah saya sehingga Tuhan menghukum saya seperti ini?”. Pengingkaran dan menyalah-nyalahkan Tuhan adalah bukti nyata kualitas iman seseorang yang berada di lapisan terbawah. Untuk seseorang dengan kualitas keimanan seperti Fakhri, kata-kata semacam ini sangat tidak pantas diucapkan. Hal yang lebih pantas adalah introspeksi diri, muhasabah dan kontemplasi ke dalam, persis seperti yang ada di novelnya. Adegan Hollywood lainnya adalah penggambaran malam pertama Fakhri dan Aisha, dimana seharusnya disinilah ditampilkan adab malam pertama yang islami sesuai bukunya. Islam mengajarkan cara bermesraan yang santun, dimulai dengan mengecup ubun2 istri dan shalat berjamaah bersama memohon diberikan kebaikan atas kehidupan baru mereka. Tapi yang terjadi adalah adegan percintaan diakhiri ciuman ala Hollywood.

Singkatnya, film ini lebih tepat disebut adaptasi dari novel bersangkutan, karena penokohan karakternya yang tidak sama. Fakhri dalam film bukanlah sosok Fakhri dalam novel. Pertimbangannya apa, saya rasa lebih kepada unsur komersialitas, dan kenyataan bahwa Negara kita adalah Negara dengan berbagai macam agama – sehingga rasanya sang produser/sutradara/penulis scenario takut untuk dicap fanatik kalau terlalu mengikuti alur cerita dan penokohan karakter dalam novel. Hasil akhirnya adalah film yang kehilangan ruh dan nafasnya, Islam yang digambarkan masih Islam yang dangkal karena sebagian besar nilai Islam yang ditampilkan di bukunya tidak muncul sama sekali.

Terlepas dari itu, bagi orang yang belum membaca bukunya insya allah akan tercerahkan menonton film ini. Saran saya bagi yang sudah menonton – lebih baik bacalah bukunya dan anda akan terhanyut dengan keindahan Islam yang begitu luar biasa.

2 comments:

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.
Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.